Hendy Sun - Our Beloved Friend in Need

He has dreams... Should he let them go? A very energetic man is about to turn into a very different way of life from what he plans to be.. Yet, he is still showing that strength and cheer of life. Thanks to all the miracle, that he is still surrounded by all his gorgeous and encouraging family and friends...

Monday, November 20, 2006

SUN MASUK RS PMC, Pekan Baru

SUN MASUK RS PMC, Pekan Baru
 
Hendy Sun.... masuk RS sejak 9 November (kamis), dan dirawat di ICU sejak jumat (10/11) malam. Kondisi SUN sungguh kasihan saat ini....
- Sun mengenakan Ventilator (alat bantu pernapasan) karena tidak dapat mengambil napas sendiri dengan normal.
- Sun terbaring sangat lemah, matanya tidak dapat terbuka, hanya sesekali saja -itupun hanya terbuka sedikit saja-, seperti orang setengah tidur. Dan dimulut ada pipa ventilator menuju paru2, di hidung ada selang menuju lambung untuk suplai makanan cair. Jelas sun tidak bisa diajak berkomunikasi seperti biasa [kondisi terakhir].
- Sun drop, tensinya drop dan denyut jantung lemah, sehingga untuk mempertahankan tensi stabil dan denyut jantung stabil, sun dikasi obat dengan dosis tinggi yaitu 10 (sebagai perbandingan: dosis maksimal yang diijinkan adalah 20).
- Decubitus yang letaknya di pantat sudah stadium 3-4, mengakibatkan infeksi sampai ke pembuluh darah. sehingga menyebabkan banyak komplikasi pada bagian organ internal yaitu pendarahan pada lambung, sedikit masalah di ginjal.....
- Deman tinggi berkisar 39,3-39,9 derajat celsius.
 
[inilah kondisi pertama saya melihat SUN pada tanggal 16 Nov di RS]
 
 
namun menurut pemantauan saya selama dua hari di pekan baru (16-18), hingga kondisi terakhir
pada hari sabtu pagi tanggal 18 nov, kondisi SUN sedikit membaik.
- Sun lebih sering membuka matanya walaupun tetap lemah.... kesadarannya agak baik ketika diajak omong dan baca paritta. hal ini ditunjukkan dengan ada gerakan pada alis mata, mulut seperti ingin bicara, dan jari tangan bergerak dikit.
- Dosis obat untuk mempertahankan tensi udah diturunin dosisnya hingga 5, dan kemungkinan akan dituruni jadi 3.
- Demam sudah turun hingga berkisar 38-38,3 derajat celsius.
 
Begitulah kondisi SUN saat ini, seperti terbaring tak berdaya sama sekali, jauh berbeda dengan
kondisi sewaktu dia terakhir kali meninggalkan jogja pada pertengahan juni lalu. Kondisi SUN sekarang ini cukup mengagetkan papa mama nya, karena terjadi tiba-tiba.
 
Sebenarnya kondisi SUN selama di Pekan baru sudah banyak membaik. Dari yang saya dengar dari
papanya:
- SUN sudah dapat mendudukkan tubuhnya sendiri dari posisi tidur.
- SUN sudah dapat mengangkat badannya sendiri ketika duduk dengan menekan kedua tangannya tegak ke bawah.
- SUN sudah dapat push up dengan ditahan pake lutut.
- SUN sudah dapat mendorong kursi rodanya dengan lancar
 
ini semua menunjukkan kedua lengan SUN sudah bertenaga, seperti yang kita harapkan, agar kelak
ia dapat kembali beraktifitas seperti biasa.
 
Namun ini semua terbalik, semua harapan rasanya pupus lagi. Diduga dokter kondisi sekarang ini akibat dari latihan sun yang terlalu forsir (push up dan mengangkat badannya), dan tidak berhati-hati sehingga mencederai tulang belakangnya lagi. Ditambah infeksi yang menyerang dari dalam, semua ini menyebabkan SUN drop dan GAGAL napas.
 
Hanya ini yang dapat saya katakan dan berikan...
Semoga teman2 semua yang membaca ini... dapat kembali memberikan perhatian untuk SUN,
sebisa mungkin... setidak-tidaknya masing2 dari kalian dapat mengontak
keluarganya dan tanya perkembangan SUN, syukur yang berada di dekat Pekan Baru dapat
berkunjung dan datang di akhir minggu.
 
Kita Semua Pasti Berharap Yang Terbaik Untuk SUN........
Apakah  SUN masih dapat bertahan......?
Marilah kita limpahkan semua kamma baik kita untuknya.....
Semoga SUN cepat sembuh dari penderitaan ini.........

Semoga Anda Berbahagia, Semoga Semua Makhluk Berbahagia..

salam,
 
ASIEN

Friday, September 15, 2006

Latest Update Sept, 15, 2006
Latest Info about Hendy Sun..


Sebelumnya kami ingin minta maaf karena blog ini sudah lama sekali tidak di-update.

Hendy Sun, pulang ke rumah orang tuanya di Pekan Baru, Riau, kurang lebih 10 hari setelah terjadi gempa di Yogyakarta tgl 27 mei yang lalu. Keputusan tersebut diambil karena setelah menjalani fisioterapi di RC. Orthopedi DR. Soeharso Solo selama kurang lebih 1 bulan, dirasa bahwa tidak ada metode fisioterapi baru/lain yang bisa dilakukan dan memberi hasil yang signifikan. Dengan kata lain fisioterapi yang dilakukan di Solo tersebut sebenarnya juga dapat dilakukan di rumah. Karena tujuan dari fisioterapi yang dilakukan adalah agar tidak terjadi atropi (penyusutan) otot karena otot tidak pernah digunakan dan untuk menguatkan otot2 yang masih dapat berfungsi. Kongkritnya yaitu paling tidak Sun dapat meng'angkat' sendiri tubuhnya dari keadaan berbaring menjadi duduk menggunakan kedua tanganya.

Jadi sekarang Sun berada di rumahnya dan tiap hari melakukan latihan gerakan otot2 seluruh tubuhnya di atas tempat tidur, entah sambil berbaring ataupun duduk. Sun kini dapat duduk (dari keadaan berbaring) dengan kedua tangannya sendiri meskipun masih cukup mendapat kesulitan. Decubitus yang dulu terjadi di bagian punggung telah sembuh berkat perawatan selama di RS Ortopedi DR. Soeharso Solo, akan tetapi muncul lagi yaitu di bagian (maaf) pantat, dan hingga sekarang masih belum sembuh. Buang air kecil dan buang air besarnya juga belum normal.

Adapun alamat Hendy Sun di Pekan Baru adalah :
Jl. Nangka no.10 Pekan Baru – Riau
Hp Hendy Sun: 08562929181 & 0761-7711544
Bagi rekan-rekan yang berada di pekan baru atau sekitarnya dapatlah sekiranya menjenguk Sun sekali waktu. Dan bagi yang berada di daerah lain dapatlah sekedar sms untuk memberikan semangat padanya.

Kejadian seperti yang dialami Sun dimana hidup berubah 180 derajat dalam sekejap bukanlah hal yang mudah untuk dijalani. Apalagi terkadang sewaktu saat-saat yang buruk, saat-saat yang tidak menyenangkan datang. Rasa penyesalan, rasa bosan, marah pada diri sendiri, dan berbagai macam perasaan-perasaan yang negatif tentu tidak mungkin tidak pernah datang menghinggapinya. Meski saya pribadi merasa bahwa seorang Hendy Sun dapat mengatasi emosi-emosi negatif tsb jikalau itu muncul, tetap saja dibutuhkan teman-teman yang selalu memberi dukungan, semangat, harapan untuk tetap bertahan dan melewati saat-saat yang sulit. Dan untuk itulah saya berharap agar Anda semua yang membaca tulisan ini, baik kenal ataupun tidak dengan Hendy Sun, dapat tergerak untuk paling tidak mengirimkan pesan singkat (sms) untuk memberikan dorongan padanya agar terus bersemangat menjalankan latihan (baca: fisioterapi) di rumah. Agar ia mengetahui bahwa masih banyak orang-orang yang peduli dan berharap melihat kemajuan dari latihannya.

Beberapa waktu yang lalu, ada seorang teman yang sudah menjenguk Sun. Teman ini berkata bahwa Sun meski masih menghabiskan sebagian besar waktunya di atas ranjang, tetapi tetap ceria dan bersemangat seperti dulu. Tidak nampak sedikitpun kesedihan dan kegetiran dari raut mukanya.
Itulah yang membedakan Sun dan membuatnya menjadi pribadi yang berbeda ketimbang orang kebanyakan.

Sewaktu pertama kali diberitahu oleh dokter di RS Panti Rapih Yogyakarta mengenai keadaannya yang sebenarnya, Sun pernah berkata bahwa tentu ada perasaan kecewa, tetapi dia bisa segera menerima kondisi tsb sehingga tidak lantas hanyut dalam kekecewaan. Kemudian ketika ditegaskan kembali di RS Siloam Karawaci bahwa selamanya ia akan duduk di kursi roda, ia masih bisa tersenyum.

Ketika ditanya oleh seorang teman, pernahkan terpikir bahwa hidup dengan kondisi spt itu akan tidak ada gunanya, Sun mengatakan bahwa dia hanya berpikir bahwa hidup ini hanya sedikit berubah haluan, dan tidak ada yang pernah tahu bahwa mungkin saja dengan sedikit perubahan haluan ini, hidupnya di masa yang akan datang akan lebih baik...

Lebih lanjut, saat itu, ketika ditanya apakah ia merasa takut akan masa depannya, Sun menjawab bahwa tentu saja ketakutan itu ada, tapi ia berpikir bahwa ia belum menjalani masa depan, jadi tidak pernah tahu pasti akan masa yang akan datang. Yang harus dan bisa dilakukan saat ini adalah beradaptasi dengan kondisi seperti itu dan jalani saja...

Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan pesan dari Sun: ‘Don’t blame anything when you have a problem, even a big problem.’ Pada kesempatan itu Sun juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua teman-teman dan semua orang, baik yang ia kenal maupun yang belum ia kenal, atas segala bantuan dalam bentuk apapun yang telah diberikan. Thank you so much..

Semoga Anda berbahagia..
Semoga semua makhluk berbahagia..

Be happy :)

Salam metta,
Yessy

Cttn: bagi rekan-rekan yang masih ingin membantu Hendy Sun (untuk mengetahui kondisi keluarganya dapat masuk ke http://sun-vidyasena.blogspot.com/2006/03/divonis-lumpuh-selamanya-dapatkah.html) dengan berdana, dapat disalurkan ke:
Rekening BCA cabang Nangka Pekanbaru
a.n Mewani Ali (ibu Hendy Sun)
No. 220.0254.310
konfirmasi ke: Vani (kakaknya) di 0761-7003155.

Wednesday, April 19, 2006

Last Updated April 19th, 2006

SUN kini dirawat di RS ORTOPEDI DR. SOEHARSO SOLO

Sejak hari Minggu tanggal 16 April 2006, Sahabat kita
Hendy Sun sudah dipindahkan ke RS ORTOPEDI DR.
SOEHARSO SOLO ruang Flamboyan #12 guna menjalani
program Rehabilitasi dan Fisioterapi lebih lanjut.
Sun ditangani oleh 3 orang dokter antara lain:
dr. Pamuji (Ahli Bedah Tulang Belakang dan Traumatologi),
dr. Noegroho (Ahli Neurologi)dan
dr. Siswani (Ahli Rehabilitasi Medik)

Selama kurang lebih 2 minggu di RS SILOAM GLENEAGLES KARAWACI,
Sun mendapat sedikit kemajuan dari fisioterapi.
Kekuatan tangan (lengan dan bahu) sudah semakin
membaik, sudah dapat memegang benda-benda kecil, dapat
memegang sendok dan gelas sendiri. Namun kedua
jari-jari tangan belum dapat menggenggam dengan
sempurna.

Rencananya selama di Solo, targetnya SUN benar-benar
dapat menggunakan dan memaksimalkan kedua tangannya
dengan baik. Syukur ia dapat memindahkan badannya
sendiri dengan kedua tangannya. SUN diharapkan dapat
mandiri dan bekerja kembali, katakanlah memasak yang
merupakan pekerjaannya.

Untuk sementara SUN akan berada di SOLO
untuk kurang lebih 1 bulan.

Special Thanks to Ci Jenti (Dharmajala) yang udah banyak men-support
kami selama di Karawaci... udah mau ikut repot-repot, bantu pusing dll...
thx a lot buat Sahabat-sahabat Dharmajala yang udah mengusahakan pembiayaan transportasi SUN untuk dibawa ke Solo.

And also to Bpk. Sukamto Sohar (Dhammacakka)... Bapak sudah banyak membantu
dan bermurah hati... sudah sering bolak-balik ke RS... thx

Salam untuk Rekan-rekan dan Sahabat-sahabat semua
yang tetap men-support SUN dari Jauh.


Thanks
May all the best that comes to YOU...

Friday, April 07, 2006

Last Update Apr 7th, 2006

Sejak tanggal 3 April lalu, Sun berada di RS Siloam Gleneagles Karawaci, ruang BETHSAIDA 858/1. Dari hasil MRI yang dilakukan pd tgl 3/4, tim dokter yang diketuai oleh dr. Eka Y. Wahjoe Pramono, Sp.BS., mengatakan bahwa banyak saraf yang putus. Sehingga tidak ada langkah intervensi (operasi) yang layak ditempuh atau yang bisa dilakukan untuk memperbaiki saraf2nya, karena sekali saraf putus tidak dapat menyambung kembali...

Jadi yang dilakukan Sun saat ini adalah fisioterapi untuk memaksimalkan fungsi anggota tubuh yang masih dapat digunakan (tangan) dan sedikitnya dapat mengontrol (maaf) buang air besar dan kecil. Dalam beberapa waktu kedepan
(menurut rencana Sun, mgkn sktr 1 mingguan) Sun akan tetap di RS Siloam Gleneagles untuk mengikuti 5 program fisioterapi yang dirancang oleh tim dokter untuknya.

Pada kesempatan ini kami, mewakili Hendy Sun dan keluarganya, ingin mengucapkan Anumodana atas dana yang telah maupun yang akan diberikan. Semoga hal ini membuahkan kebahagiaan bagi Anda dan keluarga Anda.
Kami juga ingin minta maaf jika ada donatur yang belum sempat kami hubungi kembali sebagai respon atas dana yg telah diberikan, harap maklum.

May u be happy
May all beings be happy

Berikut ini foto2 yang diambil sewaktu Sun masih di RS Panti Rapih Jogjakarta, saat ia berlatih dan membiasakan diri untuk duduk di kursi roda..

Foto bersama fisioterapis (pak Widi)

Sun dengan minerva-nya (penyangga leher yang didesain khusus).. Selalu ceria..

Dengan tenang dan tegar ia menghadapi kenyataan yang ada..

Wednesday, April 05, 2006

Sebuah surat dari Jenty Siswanto, milis Darmajala :
Kemarin malam, 4 April, saya dan Mina ke RS Siloam dan bertemu dengan Sun, Asien (teman Sun) dan Papa Sun. Waktu itu dr Eka lagi memeriksa dan berbicara dengan Sun, moment-nya memang pas banget. Sedih sekali mendengar vonis dokter bahwa SECARA MEDIS, Sun akan cacat seumur hidup. Ingat loh, SECARA MEDIS, bukan berarti tidak ada harapan untuk sembuh. Tapi suasana ruang itu dibuat riang, sehingga vonis itu dibuat sewajar mungkin. Dr Eka bilang Sun harus mulai banyak bergerak dan berusaha untuk mandiri. Dr Eka juga akan mempertemukan Sun dengan seorang teman yang punya history penyakit serupa tapi sekarang sudah mandiri.

Kita bisa merasakan kalau SUN agak sedih, tapi raut wajah sedih tidak kelihatan di mukanya, dia masih bisa berbincang dengan muka biasa ketika saya bercerita the wonder of meditation. Ketika Mina minta ijin untuk membacakan paritta Buddha Medicine, bahkan Sun bilang," Tentu saja boleh baca paritta karena itu memberikan kesempatan pada orang lain untuk berbuat baik."

Salut untuk Bro. Asien yang begitu setia menjaga Sun. It would be nice if everyone of us have a friend like him. Rasanya karma baik Sun juga punya teman-teman seperti mereka di Yogya. Saya dengar ada 4 teman yang punya komitmen penuh untuk menjaga Sun. Papa Sun sendiri pernah menderita Stroke dan sembuh atas usaha sendiri dengan melatih refleksiologi.
Mina sendiri bilang kalau baru kali ini dia menjenguk orang sakit tapi semangatnya tidak seperti orang sakit. Apalagi ini yang divonis cacat. Bagi teman-teman yang ingin menjenguk, datang aja, walaupun tidak kenal, bilang saja tahu dari milis. Mereka membutuhkan teman. Tapi
kalau datang, jangan membicarakan penyakit, buat suasana riang, berikan motivasi.
NB.:
Dikutip melalui milis dan ditampilkan di blogger dengan tujuan menginformasikan khayalak yang berkeinginan mengetahui lebih banyak mengenai perkembangan keadaan Sun. Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Ibu Jenty Siswanto atas tulisannya. Anumodana.